Amtsalul Qur'an

Posted by NLTF-ER23 Rabu, 20 Maret 2013 0 komentar
A.   Pengertian Amtsalul Qur’an

Secara etimologi, kata amtsal adalah bentuk jamak dari matsal, mitsl dan matsil adalah sama dengan syabah, syibh, dan syabih,baik lafadz maupun maknanya.

Sedangkan pengertian amtsal secara terminologi ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ulama’[1], yaitu:
1.     Pengertian mitslu menurut ulama’ ahli ilmu adab adalah Mitslu dalam ilmu adab adalah ucapan yang disebutkan untuk menggambarkan ungkapan lain yang dimaksudkan untuk menyamakan atau menyerupakan keadaan sesuatu yang diceritakan dengan keadaan sesuatu yang dituju. Maksudnya adalah menyerupakan perkara yang disebutkan dengan asal ceritanya. Maka amtsal menurut definisi ini harus ada asal ceritanya. Contohnya pada ucapan orang arab (banyak panahan dengan tanpa ada orang yang memanah). Maksudnya adalah banyak musibah yang terjadi karena salah langkah. Kesamaannya adalah terjadinya sesuatu dengan tanpa ada kesengajaan.

2.     Pengertian mitslu menurut ulama’ ahli ilmu bayan, yaitu majas/kiasan yang majemuk yang mana keterkaitan antara yang disamakan dengan asalnya adalah penyerupaan. Maka bentuk amtsalmenurut definisi ini adalah bentuk isti’aarah tamtsiiliyyah, yakni kiasan yang menyerupakan.
B.   Macam-Macam Amtsalul Qur’an[2]

1.     Amtsal Musharrahah ialah matsal yang di dalamnya dijelaskan dengan lafadz matsal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih. Hal seperti ini banyak dalam Al-Qur’an. Berikut di antaranya:
a)     Firman Allah mengenai orang-orang munafik;
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati. dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu  (QS. Al-Baqarah : 17-20).

2.     Amtsal Kaminah, yaitu matsal yang di dalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafadz tamtsil (permisalan), tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah, menarik, dalam kepadatan redaksinya dan mempunyai pengarih tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa dengannya. Contohnya:
·        Ayat-ayat yang senada dengan perkataan: خير الامور البسط (Sebaik-baik urusan adalah pertengahannya), yaitu:

§  Firman Allah mengenai sapi betina:
Mereka menjawab: " mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina Apakah itu." Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu"(QS. Al-Baqarah: 68).

3.     Al-Amtsal Al-Mursalah, yaitu kalimat-kalimat bebas yang tdak menggunakan lafadz tasybih secara jelas, tetapi kalimat-kalimat tersebut berlaku sebagai tasybih. Berikut ini contoh-contohnya:
a)     “Sekarang ini jelaslah kebenaran itu” (QS. Yusuf : 51)
b)    “Tidak ada  yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain dari Allah” (QS. An-Najm : 58).
c)     “Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)” (QS. Yusuf : 41).

C.   Manfaat Amtsalul Qur’an

1.     Menonjolkan sesuatu yang hanya dapat dijangkau dengan akal menjadi bentuk kongkrit yang dapat dirasakan atau difahami oleh indra manusia.
2.     Menyingkapkan hakikat dan mengemukakan sesuatu yang tidak nampak menjadi seakan-akan nampak.
3.     Mengumpulkan makna yang menarik lagi indah dalam ungkapan yang padat, seperti contoh ayat pada amtsal kaminah dan amtsal mursalah.
4.     Memotivasi orang untuk mengikuti atau mencontoh seperti apa yang digambarkan dalam mastal, jika yang dicontohkan adalah amalan yang baik.
5.     Menjauhkan (tanfir, kebalikan dari poin 4), jika isi matsal berupa sesuatu yang dibenci jiwa. Misalnya firman Allah tentang larangan mengunjing.
6.     Untuk memuji orang yang diberi mastal. Seperti pada firman-Nya tentang para sahabat.
7.     Untuk menggambarkan (dengan matsal tersebut) sesuatu yang mempunyai sifat yang dipandang buruk oleh orang banyak. Misalnya matsal tentang keadaan orang yang dikaruniai Kitabullah, tetapi ia tersesat jalan hingga tidak mengamalkannya, dalam ayat.
8.     Amtsal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam memberikan nasihat, lebih kuat dalam memberikan peringatan, dan lebih dapat memuaskan hati.



DAFTAR PUSTAKA
Mana’Khalil al-Qattan. 1992. Studi Ilmu-ilmu Qur’an. Jakarta: Litera AntarNusa.

[1] Manna’ Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an, Terj: Mabahits fi ‘Ulumil Qur’an. PT. Litera AntarNusa. Jakarta, 1992, cet.ke-1, hal,398
[2] Manna’ Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an, Terj: Mabahits fi ‘Ulumil Qur’an. PT. Litera AntarNusa. Jakarta, 1992, cet.ke-1, h. 401-406.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Amtsalul Qur'an
Ditulis oleh NLTF-ER23
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link difollow ke http://el-rahman23.blogspot.com/2013/03/amtsalul-quran.html. JANGAN LUPA MENGISI KOLOM KOMENTAR. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by Berita Update - Trik SEO Terbaru. Original design by Bamz | Copyright of CITA CINTA DAN IMPIAN.